Di Selasa malam ini, saya ingin ikut memeriahkan suatu konsep akhir tahun yang menarik yang digagas oleh Ardi Wilda. Bocah berusia 23 tahun yang biasa dipanggil Awe ini salah satu teman dekat saya yang bisa diajak “walk the talk“. Istilah “walk the talk” ini barusan saya dapat ketika menonton film Before Sunset. Serasa menghirup udara Paris di pinggir Sungai Seine ketika menontonnya, you should try! Kembali lagi ke Awe dengan konsep-konsep menariknya. Berhubung ini akhir tahun, seluruh manusia pun akan melihat ke belakang dan berharap ke depan. Person Of The Year namanya. Banyak kawan dan kerabat yang diajaknya untuk menulis. Ketika dia menulis pesan di WhatsApp “Siapa Person Of The Year lo tahun ini, Ndre?” hanya satu kata yang terlintas. Itu Damai.
Anda akan merasa orang yang paling beruntung jika telah mengenalnya. Damai Rinjani namanya. Nama yang indah menurut saya, apalagi setelah tahu ayahnya adalah pencinta alam. Nama dan karakternya mendukung, itu yang saya kenal selama hampir empat tahun. Banyak teman, sedikit musuh. Gampang bergaul dengan siapa saja. Tidak mengenal kata menyerah. Suka bermain dibandingkan belajar. Benci textbook, cinta contekan. Mudah mendengar gosip baru dan mudah menyebarkannya. Teman yang bisa diandalkan dalam suka dan duka. Pencinta awul-awul dan warna-warni. Awul-awul itu semacam baju second hand, istilah di Jogja yang sangat common. Bahkan saya dan Damai (hingga saat ini) masih menjabat sebagai Ratu Awul-Awul. Sepertinya, tidak akan habis huruf-huruf ini merangkai kata bagaimana mendeskripsikan seorang Damai. Dia memberi kenyamanan yang tidak semua orang bisa. Tampaknya saya sempat terlalu nyaman bersama Damai.
Kami dekat karena UGM, Ilmu Ekonomi, dan Himiespa. Dimulai pada tahun 2007, Himiespa lah saksi nyata kami tertawa dan berbagi cerita. Damai Andrea itu semacam Bonnie dan Clyde tapi beda jenis kelamin saja. Bersamanya saya lepas. Lepas bisa didefinisikan dengan banyak hal. Tapi mengenal Damai menjadi salah satu anugerah terbesar dalam hidup saya. Damai mengajak saya untuk berdamai dengan segala hal; masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Saya ingat betul bagaimana tahun 2009 ketika dia akan berangkat KKN ke Bali, itu momen dimana saya merasa harus siap akan kehilangan. Saya memberikan mini album foto berisikan hasil tangkapan memori ketika bermain bersama. Bahkan saya terlalu takut untuk mengantarnya ke bandara Adi Sucipto karena merasa belum siap kehilangan teman bermain dan berbagi (terima kasih Faiz mau menitipkannya ke Damai). That summer 2009 was a bit different without her.
Saya pun mengakui saya berada di antara kemapanan dan anti-kemapanan, di segala aspek. Ketika mengenal Damai, banyak anggapan dan teori yang saya anut yang akhirnya terputus begitu saja. Karena apa? Sekarang bisa saya bilang karena memang harus begitu adanya. Damai mengajari saya untuk bisa mengerti bahwa “nothing lasts forever”. Seiring berjalannya waktu, seiring tempat yang didatangi, dan seiring orang-orang yang datang dan pergi, sesuatu tidak akan selalu sama pada akhirnya. Begitu juga dengan saya dan Damai. Saya sempat merasa jauh dengannya. Saya sempat merasa Damai menjauhi saya. Saya pun sempat menjauhinya karena dia menjauhi saya. Apapun itu, saya tidak menyesal karena saya selalu mengingat dengan jelas setiap detik yang kami lewati bersama.
Dalam setahun terakhir saya mungkin bukan sahabatnya yang menemani secara fisik. Hubungan menjadi semacam jarak jauh Seoul-Jogja serta canggung karena kehadiran orang-orang baru. Saya pun jujur merasa sangat terluka ketika Damai tidak berada di samping ketika saya membutuhkan. Saya merasa kesal ketika tahun ini tidak bertemu dengannya di hari ulang tahun saya ketika selama tiga tahun saya selalu bersamanya dengan ide-ide kejutan nakalnya. Saya benci ketika dia hilang. Saya pun merasa kehilangan. Saya marah mengapa Damai harus berubah? Dan tampaknya perubahan itu relatif. Perubahan itu baik, jika kita melihatnya dengan mata dan hati yang baik. Tahun 2011 bisa menjadi tahun perubahan saya yang mendalam, dan juga tahun kehilangan. Saya kehilangan Damai Rinjani, gadis Aries 4 April ini. Tanggal 7 Juni 2011, dunia ini kehilangan Damai Rinjani di usianya yang ke-23.
Kami dulu selalu bekerja sama dalam merangkai acara kampus, dari acara ospek hingga acara hura-hura. Dari acara kumpul-kumpul lucu di Kopi Jos, hingga acara ulang tahun. Dari acara kumpul lintas angkatan Ilmu Ekonomi UGM hingga acara jalan-jalan ke pembukaan pameran di pelosok Yogyakarta. Damai adalah teman sekamar, teman sepermainan, teman sejurusan, teman sehimiespaan, teman sepergigsan, teman sepergaulan, dan teman seperawulan. Dia sangat tahu bagaimana saya gila untuk berada di depan setiap gigs berlangsung agar mendapat setlistnya. Tanggal 7 Juni itu, saya melupakan amarah dan rasa penasaran yang saya pendam. Saya mempersembahkan pikiran dan kesibukan saya terakhir untuknya. Kami ahli mengkonsep acara dan saya pun mengkonsep kepergiannya dari rumah sakit menuju bandara dengan cara sesempurna mungkin. Menghabiskan waktu untuk menangis dan menyesal serta meraung pun tidak ada gunanya karena saya tahu dia tidak suka melihat saya menangis. I did my best for the last for her, in my own way. Bagaimana mendapat pertolongan dari teman untuk masalah kargo, pesawat, acara perpisahan di rumah sakit, bagaimana sampai di Jakartanya.
Tuhan sudah menyiapkan rencana yang terbaik untuk ciptaanNya. Dua puluh tiga tahun yang indah baginya untuk hidup di dunia ini. Saya selalu percaya ada maksud di setiap langkah dan perbuatanNya. Saya selalu percaya bahwa Damai pun sudah tersenyum di sana. Saya pun merasa jarak yang kami miliki selama setahun lebih ini memang seharusnya terjadi. Damai tahu saya terlalu sayang dan nyaman dengannya. Person Of The Year 2011 saya berikan kepada Damai Rinjani yang sudah mengajari saya bahwa hidup itu dinamis. Dinamis hingga kenyamanan pun bersahabat dengan perubahan. Dinamis hingga pada akhirnya saya dipaksa untuk mengenal seorang Damai yang tidak saya kenal sebelumnya. Glad to know you, Damai. Glad to know you, as my best friend.
*ditulis sambil mendengarkan suara bising stasiun TV swasta.
** tulisan ini sedikit difokuskan kepada “saya” dibandingkan “Damai”. Saya merasa di balik karakter Damai yang begitu hebat, dia pun berhasil merubah nitty-gritty hidup saya. Terlepas dari kebiasaan saya yang sedikit banyak andreasentris tentunya…
*** Awe, don’t call me emotional. Does it look like an obituary? Oh now I am becoming emotional…



